Anggukan
Aku merasa sangat bahagia saat menikmati bintang-bintang yang gemerlapan di jalan Bandung kota Malang. Bintang-bintang itu laksana berlian yang tidak henti-hentinya memancarkan kilaunya walaupun ditempa waktu. Angin malam menayapu wajahku kala aku sofia menatap wajahku. Aku merasa bahwa ini adalah mimpi. Dan aku adalah pelaku tunggal dari mimpi itu. Sementara lalu-lalang pejalan kaki, sepeda motor dan mobil tiada henti-hentinya melewatiku. Namun, itu semua tidak membuatku mengalihkan pandangan dari Sofia
Diam-diam kucoba mencubit-cubit tanganku. Nyatakah ini? jeritku dalam hati. Ternyata ini semua adalah kenyataan yang kuharapkan di tengah mimpi-mimpi indahku. Suara nyanyian jantung kian kurasa sangat keras. Kerlipan sinar bintang menyapaku seolah berkata. “Nikmati malam ini Feizar, ini adalah malam yang kau impikan.”
Saat kutatap sekeliling dengan pikiran yang jernih, aku yakin bahwa aku sedang menikmati kebahagiaan yang sudah 6 tahun kutunggu. Aku pernah memimpikan suasana seperti ini bersama Sofia saat sekolah. Tiga tahun berpisah, tapi, impian itu berakhir dengan fakta yang tidak mengenakkan karena Sofia lebih mementingkan studinya daripada kehangatan kasih.
Sungguh, dulu, semasa sekolah di SMP hingga lulus SMA di kota Malang, aku punya impian untuk menikmati suasana penuh rasa hangat di Jalan Bandung ini. Aku pernah begitu terbius oleh lagu Inginku yang termaktub di dalam lagu –lagu cinta romantis yang dinyanyikan oleh penulis syair.
Malam ini, aku merasa seperti pemain video klip lagu-lagu romantis. Persis seperti kisah dalam video klip itu, Aku berusaha untuk membuat percaya gadis impianku itu akan ketulusan perasaanku ini. kucoba menatap sofia, gadis berjilbab dengan kulit bundar tinggi semampai dan memakai kacamata.
Ya, aku merasakan getaran yang sama bagai sebuah lagu cinta yang dinyanyikan oleh orang yang sedang terkena virus merah jambu. Mungkin kini saatnya aku menerimamu Zar.” Jawab Sofia.
“Cinta pertama akan selalu terkenang dan abadi.” Lanjut wanita terindah yang pernah kutemui di dunia ini.
”Sof, jalan yang terbentang di depan kita masih panjang. Maukah kau berjalan bersamaku mengukir kisah?” tanyaku pada Sofia.
Sofia terhenyak kemudian merenungi kalimat bersayap itu. Kemudian dia menatap mataku dan berkata ”Jangan pernah tanyakan itu lagi, Zar. Aku ingin bersamamu sampai maut memisahkan kita.”
Aku kemudian tersenyum bahagia mendengar kata-kata Sofia. Kami berdua pun berjalan menyusuri jalan Bandung yang kian hangat walaupun jarum jam sudah menunjukkah pukul delapan malam.
Saat sampai di ujung jalan bandung yang berbatasan dengan Jalan Veteran, kami berdua bertemu dengan sekelompok pengamen muda. Kupinjam gitar salah seorang pengamen itu dengan imbalan 5000 rupiah dan kukatakan pada Sofia.
“Apakah arti senyumanmu sejak lama kucoba berpaling darimu. Tapi ku tak bisa. Apakah kau terpikat padaku. Semoga kata “Ya” yang keluar darimu. Sudah lama ku berjalan sendiri. Sekarang aku ingin berjalan bersamamu. Menikmati indahnya dewi malam dan raja siang yang datangnya silih berganti.”
“Bisa dilanjutkan?”
“Apakah kau mengingat diriku seperti ku mengingatmu. Aku tak pernah berhenti berharap akan kenangan yang lalu, di halaman sekolah yang indah, di air terjun cobanrondo yang memancarkan hijau alaminya. Di air terjun Putuk Truno yang airnya membiaskan pelangi.”
Bening menetes dari pipi Sofia diiringi dengan anggukan.