Anggukan

Aku merasa sangat bahagia saat menikmati bintang-bintang yang gemerlapan di jalan Bandung kota Malang. Bintang-bintang itu laksana berlian yang tidak henti-hentinya memancarkan kilaunya walaupun ditempa waktu. Angin malam menayapu wajahku kala aku sofia menatap wajahku. Aku merasa bahwa ini adalah mimpi. Dan aku adalah pelaku tunggal dari mimpi itu. Sementara lalu-lalang pejalan kaki, sepeda motor dan mobil tiada henti-hentinya melewatiku. Namun, itu semua tidak membuatku mengalihkan pandangan dari Sofia

Diam-diam kucoba mencubit-cubit tanganku. Nyatakah ini? jeritku dalam hati. Ternyata ini semua adalah kenyataan yang kuharapkan di tengah mimpi-mimpi indahku. Suara nyanyian jantung kian kurasa sangat keras. Kerlipan sinar bintang menyapaku seolah berkata. “Nikmati malam ini Feizar, ini adalah malam yang kau impikan.”

Saat kutatap sekeliling dengan pikiran yang jernih, aku yakin bahwa aku sedang menikmati kebahagiaan yang sudah 6 tahun kutunggu. Aku pernah memimpikan suasana seperti ini bersama Sofia saat sekolah. Tiga tahun berpisah, tapi, impian itu berakhir dengan fakta yang tidak mengenakkan karena Sofia lebih mementingkan studinya daripada kehangatan kasih.

Sungguh, dulu, semasa sekolah di SMP  hingga lulus SMA di kota Malang, aku punya impian untuk menikmati suasana penuh rasa hangat di Jalan Bandung ini. Aku pernah begitu terbius oleh lagu Inginku yang termaktub di dalam lagu –lagu cinta romantis yang dinyanyikan oleh penulis syair.

Malam ini, aku merasa seperti pemain video klip lagu-lagu romantis. Persis seperti kisah dalam video klip itu, Aku berusaha untuk membuat percaya gadis impianku itu akan ketulusan perasaanku ini. kucoba menatap sofia, gadis berjilbab dengan kulit bundar tinggi semampai dan memakai kacamata.

Ya, aku merasakan getaran yang sama bagai sebuah lagu cinta yang dinyanyikan oleh orang yang sedang terkena virus merah jambu. Mungkin kini saatnya aku menerimamu Zar.” Jawab Sofia.

“Cinta pertama akan selalu terkenang dan abadi.” Lanjut wanita terindah yang pernah kutemui di dunia ini.

 

”Sof, jalan yang terbentang di depan kita masih panjang. Maukah kau berjalan bersamaku mengukir kisah?” tanyaku pada Sofia.

Sofia terhenyak kemudian merenungi kalimat bersayap itu. Kemudian dia menatap mataku dan berkata ”Jangan pernah tanyakan itu lagi, Zar. Aku ingin bersamamu sampai maut memisahkan kita.”

Aku kemudian tersenyum bahagia mendengar kata-kata Sofia. Kami berdua pun berjalan menyusuri jalan Bandung yang kian hangat walaupun jarum jam sudah menunjukkah pukul delapan malam.

Saat sampai di ujung jalan bandung yang berbatasan dengan Jalan Veteran, kami berdua bertemu dengan sekelompok pengamen muda. Kupinjam gitar salah seorang pengamen itu dengan imbalan 5000 rupiah dan kukatakan pada Sofia.

“Apakah arti senyumanmu sejak lama kucoba berpaling darimu. Tapi ku tak bisa. Apakah kau terpikat padaku. Semoga kata “Ya” yang keluar darimu. Sudah lama ku berjalan sendiri. Sekarang aku ingin berjalan bersamamu. Menikmati indahnya dewi malam dan raja siang yang datangnya silih berganti.”

“Bisa dilanjutkan?”

“Apakah kau mengingat diriku seperti ku mengingatmu. Aku tak pernah berhenti berharap akan kenangan yang lalu, di halaman sekolah yang indah, di air terjun cobanrondo yang memancarkan hijau alaminya. Di air terjun Putuk Truno yang airnya membiaskan pelangi.”

Bening menetes dari pipi Sofia diiringi dengan anggukan.

 

Gejala Skizofrenia dalam Lagu Peterpan

Ferril Irham Muzaki
Universitas Negeri Malang, Fakultas Sastra

Karya sastra entah itu berbentuk prosa ataupun puisi, oleh pengikut aliran ekspresif, dipercaya sebagai cermin dari pikiran penulisnya. Aliran ini berpendapat, pikiran pengarang termasuk gejala-gejala kejiwaan menjadi pemicu proses kreatif pengarang. Salah satu gejala kejiwaan yang sedang menjadi tren di masarakat modern adalah skizofrenia.
Skizofrenia adalah gejala psikotik yang ditandai dengan halusinasi berada di tempat yang indah kemudian mendadak menjadi tertekan kemudian menderita karena sadar apa yang diangankan hanyalah mimpi.

Jika mengaitkan antara pendekatan ekspresif dengan gejala skizofrenia, kita akan menemukan banyak sekali lirik-lirik lagu yang mengandung gejala skizofrenia. Di tulisan ini akan mengulas dua buah lagu milik Peterpan pada album kedua, Taman Langit dan Tertinggalkan Waktu, yang kalau ditilik dari pendekatan ekspresif memiliki keterkaitan erat dengan gejala skizofrenia.

Lagu Peterpan dengan judul taman langit, kalau ditilik dari aliran cerita dalam lagu tersebut, bercerita tentang orang yang hidup di surga, segalanya indah. Dalam lagu ini jelas ada gejala halusinasi yang jamak diderita oleh penderita skizofrenia, gejala masuk ke tempat yang penuh dengan kedamaian. Entah mengapa, dalam album yang sama ada sebuah lagu yang maknanya cukup berat, tertinggalkan waktu. Lagu ini bercerita tentang orang yang terbangun dari mimpi-mimpi indah dan sadar mimpinya hanyalah khayalan belaka. Dalam lagu ini, seperti terlihat fase-fase terberat yang menyebabkan penderita skizofrenia menderita, sadar bahwa impiannya hanya kosong.

Untuk itulah, implikasinya, kita harus sadar, bahwa skizofrenia dan gejala-gejala psikotik lainnya, adalah fenomena biasa yang mungkin dihadapi oleh setiap manusia. Tidak peduli itu artis, presiden atau warga biasa, semua berpotensi terkena skizofrenia. Diperlukan semangat untuk menjadi care-giver bagi orang-orang dengan skizofrenia dan gejala psikotik-psikotik lainnya. Gejala skizofrenia umum ditemukan, dan kita harus memberikan perlakuan yang layak pada orang-orang dengan gejala psikotik, bukannya malah dipasung dan dijadikan bahan tertawaan umum.

Akhir kata, skizofrenia bukanlah kutukan, karena hal itu amat jamak ditemui di kalangan masyarakat. Jika ditilik dari teori sastra berbasis pendekatan ekspresif, kita akan jamak menemui orang-orang dengan skizofrenia yang mampu berkarya. Karena skizofrenia dan gejala-gejala psikotik lainnya bukanlah kutukan, melainkan ujian untuk menentukan siapa diantara kita yang peduli akan nasib sesama.

The underground heroes among us

Ferril Irham Muzaki | Sun, 11/21/2010 3:17 PM | Discover

The meaning of the word “hero” has changed. During the war for independence from 1945-1949, a hero was someone who served in the military against the colonial government.

This was based on the fact that at that time, the real enemy was the colonizers who used bullets to rob this country. Indonesians responded, showing their muscle. The war for independence claimed lives – some of the best Indonesians.

History shows their sacrifices are real. The freedom that we have and enjoy today is the result of their labor.

In the modern era, a “hero” is not only someone who joins the army. The challenge in modern times is how to build a better life. That is why a hero has now transformed into someone who serves the country sincerely.

Heroes in modern times come from diverse professions. They work for people who sometimes don’t even recognize them.

Police officers who stand on alert every morning are modern heroes. They work for us – making sure the streets are secure. They put society above their family business in the morning; taking their children to school, shopping at the market for their family or many other private activities.

Although some of their bosses are graft suspects and this gives them a bad name, they still work for us. They serve society from the bottom of their heart. We have to salute them. Those are the real police officers – the ones who stand by society to make sure the streets are safe. Not the corrupt ones.

People often see one or two individuals who stand on alert at railway crossings or intersections to make sure motorists are safe. They have to work for hours and their salary is not that high. Commentators on television and in the mass media love to put the blame on police officers if there is a railway accident.

They don’t realize the men at the railway crossings work very hard. Very often, more problems come from commentators, who give statements but don’t act to make crossroads safer.

Teachers at small schools in remote places are heroes in education. The teachers who serve this nation believe heaven will be their place in the afterlife.

Forget about what the bosses in Jakarta who often make inconsistent education plans are doing, the teachers still continue to teach their pupils consistently. They work for the future generations of Indonesia. For teachers, fees or salaries are not very important. What is more important is that their students become successful and beneficial to society.

In spite of their low salaries, teachers work for Indonesia. They are the teachers who inspire their students. They are the national heroes in the modern era.

The bus drivers who drive their vehicles carefully are also heroes in the modern era. Even at midnight they still serve society by bringing people to their destinations. When their buses are not in proper condition, they repair them carefully and continue to check and recheck the condition of their buses.

They maintain their bus regularly before they pick up passengers. Some of them do cheat society and there are others who drive recklessly and cause traffic accidents. But many others serve society well. We have to respect them.

There are so many “underground” heroes in society. The professions mentioned are only some examples. These people work and serve the nation sincerely and honestly. Money is last on the list of what they want from the nation.

They always ask what they could give to Indonesia rather than what Indonesia gives them. The real heroes are the ones who work hard for their country, rather than just talking without any real action.

Ferril Irham Muzaki
State University of Malang

http://www.thejakartapost.com/news/2010/11/21/the-underground-heroes-among-us.html

Letter: End of US invasion of Iraq

US President Barrack Obama has said Iraq should take responsibility for their own homeland security. That statement shows that the US mission in Iraq has formally ended.

The US mission in Iraq has failed. The US has sent home more than 4,400 of its own fallen soldiers.

As commoners know, the US has occupied Iraq since 2003. Their argument was that Iraq had weapons of mass destruction. As time went by, nothing was found except for some pesticide.

The US then changed their argument, claiming they sought to help the Iraqis achieve better security. The US Army captured and hung Saddam Hussein, but history shows this did not affect Iraqi homeland security.

In the White House on Aug. 31, 2010, Barack Obama said that mission in Iraq is over. Even before Obama spoke about the US failure in Iraq, many analysts said that Iraq will be a land without a landlord.

Everything will be based on the law of the jungle. There is one thing that Indonesia and Indonesians could learn from the unaccomplished US mission in Iraq.

Indonesia and Indonesians should stop trying to use muscle to solve terrorism. Using bullets to solve terrorism will trigger other bombs.

The decision to learn from US catastrophes in Iraq is in Indonesia’s hands. History always repeats itself if learning from historical events is neglected.

Ferril Irham M

Malang

Source: http://www.thejakartapost.com/news/2010/09/18/letter-end-us-invasion-iraq.html

Istana Wakil Rakyat

Ferril Irham M

Universitas Negeri Malang

Alkisah seorang bijak mengingatkan seorang raja yang sedang membangun istana barunya untuk lebih mengutamakan rakyatnya yang kelaparan. Karena merasa tersinggung, raja itu menggantungnya. Menjelang dieksekusi, orang bijak itu berteriak, “Hai Raja, ketahuilah bahwa istana barumu tidak kaubawa ke liang lahat. Yang kaubawa adalah amal kebaikanmu. Ingatlah, masih banyak rakyatmu yang beratap langit beralas bumi.”

Masyarakat disibukkan oleh berita hangat rencana pembangunan istana DPR yang baru. Suara warga di warung-warung kecil kebanyakan tidak setuju. Masih banyak rakyat kecil yang tidak punya rumah dan kebutuhan mendesak akan jalan yang nyaman.

Adalah suatu hal yang kontraproduktif, ketika wakil rakyat membangun istana megah sementara rakyat masih kesulitan membeli rumah. Harga rumah di Kota Malang dan sekitarnya sudah tidak terjangkau oleh warga kebanyakan.

Kebutuhan akan transportasi seperti jalan yang nyaman merupakan kebutuhan yang mendesak. Seperti yang diketahui oleh umum, pertambahan laju kendaraan begitu pesat. Contoh sederhananya, tiap hari jalan di Kota Malang semakin padat. Bukti kedua, sepeda motor model baru berseliweran di mana-mana hanya seminggu setelah diiklankan. Padahal, jalan di Kota Malang ukurannya tetap. Amat jarang diadakan perluasan jalan. Yang ada hanyalah perbaikan dan perluasan jalan beberapa meter.

Merupakan sebuah keniscayaan, para wakil rakyat yang berhati nurani, untuk lebih mengutamakan membangun jalan daripada membangun istana baru. Sudah saatnya wakil rakyat betul-betul mewakili rakyat. Para wakil rakyat haruslah ingat, jabatan di dunia ini amanah, akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Pencipta. Di liang lahat nanti, yang menjadi pembela adalah amal kebaikan, membangun jalan dan perumahan rakyat, bukan istana baru.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/09/06/istana-wakil-rakyat.html

Berbuka Puasa

Seorang teman bercerita, di bulan puasa ini, berat badannya justru naik beberapa kilogram. Semula saya heran dengan cerita teman saya. Setelah saya menyimak bagaimana dia berbuka puasa dan sahur, saya menyimpukan bahwa dia termasuk orang-orang, menurut Ustad Yusuf Hanafi, “menumpuk racun”.

Menurut dosen agama Islam Universitas Negeri Malang itu, banyak orang yang berpuasa sehari penuh justru “menumpuk racun”. Itu karena menganut prinsip puasa balas dendam usai berbuka puasa.

Puasa harus dihentikan setelah azan Maghrib dikumandangkan. Saat itulah, waktunya berbuka. Yang biasa terjadi, saat berbuka membuat orang kalap dan melahap habis seluruh makanan yang tersedia.

Menurut sebuah penelitian, puasa terbukti sangat efektif dalam membuang racun-racun dalam tubuh. Semua orang yang berpuasa, dipastikan telah menyehatkan tubuh. Penelitian itu betul, sayangnya fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Setelah berpuasa kurang lebih 12 jam, dipastikan telah membuang racun-racun dalam tubuh, racun-racun tersebut masuk kembali saat berbuka puasa.

Proses masuknya racun-racun disebabkan kekalahan mengekang hawa nafsu dalam hal menyantap makanan. Karena itu, benarlah pernyataan Gede Prama beberapa tahun lalu, bahwa nafsu perut haruslah dikendalikan, agar sehat.

Seorang bijak berkata “berpuasalah, agar kamu sekalian sehat”. Pernyataan tersebut akan efektif bila kita mampu mengalahkan “nafsu perut”. Kalau tidak mampu berpuasa usai berbuka puasa, racun-racun yang kita buang selama 12 jam berpuasa akan kembali lagi. Hasil akhir yang didapat hanya mendapat lapar dan dahaga tanpa memperoleh manfaat secara langsung dari puasa, yaitu sehat.

http://www.surya.co.id/2010/08/25/berbuka-puasa.html

Mengawasi Para Pengawas

Ferril Irham M

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Hari-hari belakangan ini, masyarakat dihebohkan berita tentang beberapa oknum penegak hukum memiliki uang di rekening melebihi batas “normal”. Sebagai masyarakat biasa, sudah selayaknya warga menunggu hasil penyelidikan resmi. Tentu dengan menjunjung asas praduga tidak bersalah.

Layaknya tontonan, warga hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi. Masyarakat hanya berharap agar bukti dan apa yang disebut kebenaran itu terungkap meski tidak terlalu berharap semuanya akan gamblang diungkapkan kepada publik.

Ingar-bingar pemberitaan “rekening gelap” para penegak hukum mengingatkan pada kisah Digital Fortrees, buah karya seorang Dan Brown (penulis Da Vinci Code). Dalam novel tersebut, diceritakan NSA (National Security Agency) merupakan lembaga yang bebas melakukan apa pun, termasuk melanggar privasi (baca: mengawasi) setiap kegiatan warga Amerika Serikat.

NSA, menggunakan mesin superkomputer tercanggihnya TRNSLTR untuk mengawasi setiap gerak-gerik warga Amerika Serikat. Kalau di alam nyata, TRNSLTR adalah sebuah superkomputer raksasa. Salah seorang pembuat TRNSLTR, Ensei Takado, mengkritik penggunaan mesin tersebut secara berlebihan dengan ungkapan yang terukir di cincinnya, “Siapa yang menjadi pengawas dari para pengawas?”

Kritikan Enshei Takado merupakan masalah klasik yang dihadapi setiap negara hukum. Dalam negara hukum, para pengawas menegakkan hukum kepada masyarakat. Masalah mulai timbul ketika para pengawas melakukan pelanggaran hukum.

“Siapa yang menjadi pengawas dari para pengawas?” pertanyaan seperti itulah yang akan muncul di masyarakat.

Di Indonesia, seleksi untuk masuk menjadi kelompok “para pengawas” sudah bagus. Itu dapat sedikit melegakan masyarakat karena dengan demikian paling tidak ada jaminan bahwa bibit yang masuk sudah bagus.

Peningkatan sistem pengawasan untuk “para pengawas” yang perlu ditingkatkan. Itu bisa dilakukan dengan mengadakan temu publik untuk berbagi keluhan tentang perilaku para pengawas. Dengan ditingkatkannya sistem pengawasan untuk para pengawas, mendapat kepercayaan publik untuk mengawasi adalah hal yang akan didapat oleh para pengawas.

Jika tidak, kata-kata Enshei Takado dapat dijadikan ungkapan untuk menggambarkan carut-marutnya sistem pengawasan dari para pengawas di Indonesia. Logika sederhananya, para pengawas tidak ada yang mengawasi. Lantas, jika terjadi penyimpangan siapa yang dapat meluruskan para pengawas?

http://www.surya.co.id/2010/07/05/mengawasi-para-pengawas.html

Ketika Dua Raksasa Bergabung

Ferril Irham M

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Apa yang terjadi bila dua raksasa menyatukan kekuatan? Dari bahan obrolan di warung kopi yang membahas rencana dua raksasa CDMA untuk bergabung, ada kajian menarik. Kajian ini tentu berbeda dengan kajian ekonom. Akan tetapi, sebagai pengguna CDMA, tentu sah-sah saja bila membahas rencana bergabungnya Telkom Flexi yang dimiliki oleh BUMN Telkom dengan Esia yang dimiliki kelompok usaha Bakrie.

Ada satu benang merah yang menghubungkan keduanya. Eric Meyer, salah satu nakhoda Esia. Eric Meyer pernah memimpin Telkomsel, salah satu anak perusahaan Telkom. Sudah menjadi fakta tidak terbantahkan bahwa Telkom, sebagai BUMN perintis layanan jasa telekomunikasi di Indonesia, memiliki jaringan dari Sabang sampai Merauke. Jaringan terluas di negara yang berpenduduk di atas 260 juta jiwa adalah tambang emas.

Seorang Eric Meyer, yang pernah menjadi salah satu “orang dalam” di Telkom, pasti mengetahui potensi tambang emas Telkom. Eric Meyer tentu sudah memiliki kalkulasi dan rencana bisnis yang akan dilakukan bila Telkom Flexi dan Bakrie Esia bergabung.

Masalah utama yang dihadapi setiap perusahaan telekomunikasi adalah perluasan jaringan. Pendirian sebuah menara komunikasi bisa memakan biaya lebih dari Rp 1 miliar. Wilayah Indonesia yang luas tentu menjadi masalah dalam perluasan jaringan. Sampai tulisan ini dibuat, hanya Telkom yang memiliki jaringan di seluruh Indonesia.

Bila bergabungnya dua raksasa itu berhasil, Eric Meyer akan memanfaatkan jaringan Telkom yang sudah luas. Logika sederhananya, setiap kantor Telkom sampai pelosok dibangun menara Flexi-Esia.

Jaringan Telkom Flexi dan Bakrie Esia yang sudah “telanjur berseteru” akan disinergikan. Tanpa perlu menjadi seorang pakar bisnis telekomunikasi, kekuatan gabungan dua raksasa CDMA, pasti menghasilkan gurita bisnis yang sulit untuk ditandingi dalam waktu dekat.

Sangat mudah bagi seorang Eric Meyer untuk melakukan rencana bisnisnya. Aburizal Bakrie, pemilik kelompok usaha Bakrie, adalah salah satu orang terkaya di Indonesia menurut beberapa majalah ekonomi. Jejaring Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, dalam dunia politik nasional tidaklah diragukan lagi. Modal finansial dan politik Ical yang boleh dikatakan “tidak terbatas” akan memuluskan strategi bisnis itu.

Sebagai warga biasa, harapannya juga tidak membubung tinggi. Dampak positif yang diharapkan, terciptanya sistem komunikasi yang murah, mudah, cepat, dan efisien.

http://www.surya.co.id/2010/06/29/ketika-dua-raksasa-bergabung.html

Kekacauan Dunia Terjemahan

Ferril Irham M

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Di akhir perkuliahan Translation 1, terjadi diskusi hangat dengan dosen matakuliah tersebut, Arif Subiyanto, tentang dunia penerjemahan di Indonesia. Salah satunya tentang terjemahan istilah fakultas dalam bahasa Inggris karena ada dualisme penyebutan fakultas dalam bahasa Inggris di harian nasional berbahasa Inggris, The Jakarta Post (2/6).

Putera Satria Sambijantoro, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menulis identitasnya sebagai School of Economics. Itu agak aneh karena pada berita sebelumnya (20/5), Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tempat Menteri Keuangan Agus Martowardojo, berkuliah diterjemahkan Faculty of Economics University of Indonesia.

Arif Subiyanto menjelaskan bahwa memang terjadi inkonsistensi dalam sistem penerjemahan di Indonesia. Dia meminta membuka situs Harvard University dan Oxford University untuk mencari tahu terjemahan yang betul, school of economics atau faculty of economics.

Dalam situs Harvard University, istilah fakultas disebut school of sebagai contohnya school of law (fakultas hukum). Sebagai pembanding, The Oxford University untuk bidang studi yang sama, menggunakan istilah faculty of law.

Jelaslah sekarang, terjadi inkonsistensi di dunia terjemahan Indonesia. Mahasiswa UI dan wartawan The Jakarta Post itu tidak dapat disalahkan. Setelah membicarakan temuan ini lewat e-mail, Arif Subiyanto kemudian meminta mencari istilah mahasiswa pascasarjana.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Di Indonesia, mahasiswa program magister biasa menyebut diri sebagai post graduate students. Itu berbeda dengan sebutan di Amerika Serikat (AS).

Di AS, istilah untuk mahasiswa pascasarjana adalah graduate students dan sarjana adalah undergraduate. Menurut mahasiswa dari Pittsburg University, Sara Bularzik, yang berkunjung ke Universitas Negeri Malang dalam rangka penelitian, membenarkan graduate adalah istilah untuk mahasiswa program magister (S2).

Sekarang jelaslah, dunia terjemahan di Indonesia membutuhkan aturan tentang tata terjemahan supaya tidak ada perbedaan standar dengan negara lain.

Jika begitu, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris mana yang benar, Faculty of Letters State University of Malang atau School of Letters State University of Malang? Menurut Dekan Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. penerjemahannya mengikuti standar penerjemahan di Universitas Negeri Malang.

http://www.surya.co.id/2010/06/18/kekacauan-dunia-terjemahan.html

Ketua NU yang Profesional

Ferril Irham M

Jurusan Sastra Inggris UM

Nahdatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam yang usianya cukup tua, didirikan oleh K.H Hasyim Asyari. Menginjak usianya yang cukup tua, didirikan tanggal 31 Januari 1926, NU akan mengadakan sebuah acara besar, yaitu muktamar NU ke 32 pada tanggal pada 23-27 Maret 2010. Kalau dianalogikan seperti usia tumbuh kembangnya manusia, NU kini sudah masuk sebuah fase di mana kebijaksaan menjadi tolak ukurnya.

Sekarang peradaban manusia telah memasuki abad ke 21. Abad ke 21 adalah sebuah abad yang mementingkan profesionalisme sebagai tolak ukurnya. Arus informasi melalui berbagai macam media massa seperti koran, televisi dan internet menjadi kian luas. Masyarakat terutama warga NU tentu sudah memiliki kriteria untuk ketua umum NU, yaitu yang memiliki profesionalitas dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran dan Alhadist, tidak terjebak dalam konservatisme.

Masyarakat kini dengan mudah mengetahui, mengamati dan menilai tindak-tanduk para pemimpinnya. Di abad ke 21, masyarakat mendambakan profesionalitas dan keteladanan dari para memimpinnya. Harapan-harapan di atas tentu menjadi kriteria pemimpin NU yang akan segera dipilih.

Di era informasi seperti sekarang, menafsirkan segala sesuatunya haruslah sesuai dengan konteks sosial yang terjadi di masyarakat.

Ketua NU sebagai salah seorang panutan umat Islam haruslah menafsirkan ayat-ayat suci Al quran dan Alhadist, pegangan bagi umat Islam dalam bertindak, berperilaku dan beribadat, dengan berkaca pada realitas sosial yang ada.

Jika sebuah organisasi Islam menafsirkan ayat-ayat suci Alquran dan Alhadist secara kaku, maka yang terjadi adalah ditinggalkannya organisasi Islam tersebut. Umat Islam sekarang sudah menjadi umat yang kritis, mereka tidak mau lagi didogma.

Sebagai contohnya adalah saat sekumpulan “ulama” mengeluarkan fatwa Facebook haram, yang terjadi adalah umat Islam justru ramai-ramai memboikot fatwa tersebut dengan membuat kelompok-kelompok “perlawanan” di Facebook.

Harapannya, pemimpin NU yang nanti terpilih, mampu berkaca dari realita seperti kisah nyata di atas. Caranya, membaca ayat-ayat Alquran dan Alhadist secara kontekstual, bukan tekstual.

Dengan penafsiran yang bersifat kontekstual, diharapkan NU tidak ditinggalkan umatnya.

Sebab pemahaman yang kontekstual membuat NU bisa bertahan dari segala cuaca. Menurut hemat penulis, menyiapkan payung sebelum hujan lebih baik dari pada membeli payung saat musim hujan.

Manfaat yang lain dengan menafsirkan Alqur’an dan Alhadist secara kontekstual, NU menjadi lebih kreatif sehingga tidak dilindas oleh zaman.

Umat sekarang membutuhkan pemimpin yang mampu mengakomodasi kepentingan umatnya. Bukan terjebak dalam konservatisme penafsiran Alquran dan Alhadist.

Kalau sampai terjadi konservatisme dalam penafsiran Al-Qur’an dan Al Hadist oleh pemimpin NU, sungguh amat sangat disayangkan, karena umat membutuhkan profesionalitas dalam menafsirkan ayat, secara kontekstual dan bebas dari cengkraman konservatisme.

http://www.surya.co.id/2010/03/22/ketua-nu-yang-profesional.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.