Gejala Skizofrenia dalam Lagu Peterpan

Ferril Irham Muzaki
Universitas Negeri Malang, Fakultas Sastra

Karya sastra entah itu berbentuk prosa ataupun puisi, oleh pengikut aliran ekspresif, dipercaya sebagai cermin dari pikiran penulisnya. Aliran ini berpendapat, pikiran pengarang termasuk gejala-gejala kejiwaan menjadi pemicu proses kreatif pengarang. Salah satu gejala kejiwaan yang sedang menjadi tren di masarakat modern adalah skizofrenia.
Skizofrenia adalah gejala psikotik yang ditandai dengan halusinasi berada di tempat yang indah kemudian mendadak menjadi tertekan kemudian menderita karena sadar apa yang diangankan hanyalah mimpi.

Jika mengaitkan antara pendekatan ekspresif dengan gejala skizofrenia, kita akan menemukan banyak sekali lirik-lirik lagu yang mengandung gejala skizofrenia. Di tulisan ini akan mengulas dua buah lagu milik Peterpan pada album kedua, Taman Langit dan Tertinggalkan Waktu, yang kalau ditilik dari pendekatan ekspresif memiliki keterkaitan erat dengan gejala skizofrenia.

Lagu Peterpan dengan judul taman langit, kalau ditilik dari aliran cerita dalam lagu tersebut, bercerita tentang orang yang hidup di surga, segalanya indah. Dalam lagu ini jelas ada gejala halusinasi yang jamak diderita oleh penderita skizofrenia, gejala masuk ke tempat yang penuh dengan kedamaian. Entah mengapa, dalam album yang sama ada sebuah lagu yang maknanya cukup berat, tertinggalkan waktu. Lagu ini bercerita tentang orang yang terbangun dari mimpi-mimpi indah dan sadar mimpinya hanyalah khayalan belaka. Dalam lagu ini, seperti terlihat fase-fase terberat yang menyebabkan penderita skizofrenia menderita, sadar bahwa impiannya hanya kosong.

Untuk itulah, implikasinya, kita harus sadar, bahwa skizofrenia dan gejala-gejala psikotik lainnya, adalah fenomena biasa yang mungkin dihadapi oleh setiap manusia. Tidak peduli itu artis, presiden atau warga biasa, semua berpotensi terkena skizofrenia. Diperlukan semangat untuk menjadi care-giver bagi orang-orang dengan skizofrenia dan gejala psikotik-psikotik lainnya. Gejala skizofrenia umum ditemukan, dan kita harus memberikan perlakuan yang layak pada orang-orang dengan gejala psikotik, bukannya malah dipasung dan dijadikan bahan tertawaan umum.

Akhir kata, skizofrenia bukanlah kutukan, karena hal itu amat jamak ditemui di kalangan masyarakat. Jika ditilik dari teori sastra berbasis pendekatan ekspresif, kita akan jamak menemui orang-orang dengan skizofrenia yang mampu berkarya. Karena skizofrenia dan gejala-gejala psikotik lainnya bukanlah kutukan, melainkan ujian untuk menentukan siapa diantara kita yang peduli akan nasib sesama.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.